Lokasi

Warung kopi klotok adalah salah satu warung kopi di Pakem, Sleman Yogyakarta yang menggunakan konsep rumahan atau ndeso. Jika anda amati di media sosial nama warung ini sangat terkenal karena menjadi rujukan bagi pelajar/mahasiswa/karyawan untuk menyantap menu makanan dan hidangan-hidangan lainnya di waktu istirahat. Selain nuansa ndeso juga keasrian alam karena letaknya dikelilingi sawah yang luas. Mengapa tempat ngopi satu ini begitu ramai tak pernah sepi dari pengunjung dari Jogja dan dari wisatawan?

Kopi klotok Jogja terletak di Jl. Kaliurang No. KM 16, Area Sawah, Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Jika anda seorang wisatawan yang belum pernah ke Jogja barang kali sedikit saya jelaskan bahwa daerah Kaliurang ini adalah daerah wisata. Kehadiran warung kopi klotok ini baik disengaja atau tidak adalah untuk menunjang para wisatawan yang ingin mencari warung makan a la ndeso sambil nyeruput kopi. Ketika anda masuk ke area parkir warung ini anda akan mendapati deretan mobil-mobil yang ber-plat asing. Mereka yang kebetulan dari kota lain sedang liburan ke Jogja dan terkesan dengan pesona kopi klotok lalu melunasi rasa keingintahuan mereka dengan mengunjungi langsung. Sepeda motor juga berbaris rapi seperti tak pernah kosong.

Perlu diketahui bahwa pencarian dengan kata kunci warung kopi klotok di internet sangat tinggi. Setidaknya ada 1600 viewer yang mencari di mesin pencari google. Di Instagram atau facebook foto-foto tentang kopi klothok juga banyak diposting. Hampir setiap hari para pengunjung memposting diri dengan para rombongan yang sedang menyantap sajian-sajian lezat di sini. Hal-hal seperti inilah yang membangun nama perusahaan menjadi besar, meski pada mulanya dibangun dengan konsep sederhana. Warung kopi ini menjadi bukti bahwa nuansa desa tetap digemari oleh masyarakat hari ini.

Kendala Menuju Lokasi Warung Kopi Klotok

Ada beberapa kendala menuju lokasi yang mungkin perlu anda ketahui. Apalagi jika anda tidak tahu sama sekali lokasinya. Misalnya jika musim hujan tiba anda yang menggunakan sepeda motor akan menemukan kendala karena jalanan menuju kopi klotok ini track-nya menaik. Anda harus ekstra hati-hati karena jalan ini juga dilewati oleh mobil-mobil besar yang membawa wisatawan berlibur.

Untuk moda transportasi saat ini relatif aman. Jika dulu sebelum ada ojek online akses menuju ke sana harus memakai transportasi pribadi maka sekarang anda bisa memesan via aplikasi dengan tujuan yang telah ditentukan. Keberadaan ojek online ini sebenarnya sangat membantu anda. Apalagi jika anda berlibur dengan rombongan.

Menu Lezat Yang Bermanfaat/Menu Warung Kopi Klotok

Hampir mustahil warung makan dibangun tanpa mengandalkan rasa sebagai faktor utamanya. Warung kopi seperti klotok ini yang mengandalkan konsep ndeso harus diletakkan dalam kondisi persaingan bisnis yang memiliki persaingan sengit dengan modal yang besar. Ada banyak warung yang sejenis di tempat lain dan menawarkan menu sama. Nuansa yang mereka gunakan juga sama. Artinya tidak ada yang otentik. Semua adalah tentang persaingan bisnis.

menu-makanan-warung-kopi-klotok
Menu Makanan di Kopi klotok

Karena itu konsep dan tampilan boleh sama tapi rasanya sangat menentukan. Itulah teori yang dipakai oleh warung kopi klotok ini. Cita rasa ndeso tetap ada dan dipertahankan. Ini agak sulit apalagi di Yogyakarta makanan lebih dominan rasa manis. Tetapi di warung ini, misalnya, sayur lodeh disajikan dengan tidak begitu dominan rasa manisnya, bukan standar makanan lokal Jogja. Apakah dengan itu kehilangan konsumen? Tidak sama sekali! Justeru rasa itu diterima oleh banyak lidah. Strategi ini penting karena Jogja dikunjungi oleh konsumen dari berbagai daerah yang memiliki standar masakan berbeda-beda. Menetapkan rasa, dalam ilmu gastronomi, adalah hal yang sulit. Dalam konteks Indonesia, lebih spesifik warung kopi klotok, bukan hal mudah agar masakan bisa diterima tanpa menimbulkan rasa bosan.

Ada beberapa menu makanan yang disajikan oleh warung kopi keren ini. Foto di bawah menunjukkan beberapa nama masakan baik sayur atau lauk pauk sederhana yang disajikan di sini.

Jika dilihat sekilas menu-menu makanan berat seperti lodeh tempe Lombok ijo, lodeh kluwih, lodeng terong, sayur asem, sambel dadak, sego megono, gereh layur adalah menu-menu yang biasa disantap masyarakat Indonesia. Semua adalah menu pedesaan. Dengan kata lain sebenarnya tak ada yang istimewa dalam sajian warung klotok –sekali lagi- bagi masyarakat desa. Pun demikian dengan jajanan pisang goreng dan jading goreng. Atau dengan minuman seperti kopi, teh dan wedangan. Tak ada santapan yang benar-benar baru.

Sajian kopi klotok

Saya sempat bertanya-tanya apakah menu ini tidak akan membuat para pengunjung cepat bosan? Untuk sekali dua kali kunjungan tak masalah. Tapi jika kunjungan itu terjadi secara intensif ada rasa bosan yang muncul. Secara alamian rasa bosan akan muncul. Itu bukan saja bersumber dari perasaan yang memang pada hakikatnya membutuhkan hal-hal baru, tidak monoton. Orang tidak akan berhenti pada satu selera makanan. Belum lagi ada ribuan jenis masakan di luar sana yang menyajikan rasa berbeda yang membuat orang ingin mencicipi. Tetapi secara hukum ekonomi hal yang sama (rasa bosan) menjadi kekhawatiran semua penjual makanan dan minuman. Dan itu memerlukan siasat atau strategi agar bisa diatasi demi kelangsungan perusahaan. Kondisi demikian biasa disebut titik-jenuh pasar.

Menu sayur dan lauk pauk di kopi klotok 

Pada situasi seperti ini kopi klotok tetap pada sajian yang tertera daftar menu di atas. Mengapa justeru mempertahankan menu tersebut? Bukannya itu yang membuat bosan?

Dalam konteks Jogja sejarah makanan terus berubah dengan cepat. Jogja menjadi salah satu kota metropolitan yang dinamis. Selama dua dekade belakangan ini, di samping percepatan pembangunan di bidang ekonomi dengan dibangunnya ‘artefak’ modern seperti hotel dan mol, juga dari sisi makanan banyak mengalami kemajuan yang bisa dilihat dari restoran-restoran dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Persaingan pasar yang bebas memungkinkan pertumbuhan secara cepat makanan-makanan junk food. Perusahaan-perusahaan Junk Food memang secara sengaja berusaha mengontrol kehidupan kita khususnya selera dan konsumsi makanan. Salah satunya adalah McDonald yang menurut Ritzer secara sengaja melakukan homogenisasi makanan.[1] Dalam beberapa tahun belakangan muncul kesadaran betapa kesehatan makanan adalah hal yang mahal dan sangat penting bagi tubuh. Dan itu tidak bisa didapat dari junk food.

Pemandangan sawah di kopi klotok

Dengan semakin berkembangnya makanan junk food dan sulitnya mencari makanan sehat nan murah maka strategi yang dimainkan oleh WKK sangat tepat. Warung kopi klotok menghadirkan menu makanan lezat yang bermanfaat bagi tubuh. Dan dari aspek harga juga benar-benar disamakan dengan harga pedesaan. Artinya meskipun terbilang makanan penting bagi kesehatan dan sangat diburu banyak orang tetapi tidak menerapkan standar harga perkotaan. Jika dibandingkan dengan restoran di kota sendiri sangat berbeda dari harga. Dengan demikian semakin kesehatan menjadi trend makanan di masyarakat semakin besar pula posisi tawar WKK.

Warung Kopi Klotok Ditinjau Dari Ilmu Gastronomi

Dalam dunia gastronomi makanan dikaji sebagai ilmu pengetahuan. Dalam beberapa dekade di Indonesia kajian-kajian tentang masakan lebih didominasi oleh kalangan pelajar yang bersekolah di tata boga. Meskipun sebenarnya jika diamati lebih dalam lagi, di luar negeri sejarah dan wacana tentang makanan itu sudah berkembang sedemikian rupa sehingga makanan menjadi identitas dari sebuah negara.

Potret dapur/pawon kopi klotok

Kita masih ingat ketika pesepak bola Rio Ferdinan menyantap makanan nasi goreng dan mengatakan bahwa nasi goreng adalah makanan lokal Singapura. Segera setelah postingan twitter itu beredar, netizen di Indonesia pun berkomentar dengan hestek #NasiGorengIndonesia sebagai bentuk kritik[2]. Atau ketika mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama mengunjungi Indonesia dan berkomentar soal makanan kesukaannya yaitu nasi goreng atau bakso yang disambut dengan tepuk tangan dan rasa haru oleh masyarakat Indonesia. Apa yang membuat semuanya langsung mengikat perasaan banyak orang adalah identitas yang ada di balik makanan. Masyarakat Indonesia sudah mengikat perasaan terhadap makanan mereka.

Hidangan yang disajikan oleh warung kopi klotok juga bisa ditinjau dari sudut pandang gastronomi. Misalnya pisang goreng. Menurut sejarah makanan pisang adalah makanan asli pribumi Indonesia yang sudah menjadi konsumsi sehari-hari dan merupakan komoditas jual-beli dengan negara lain seperti China[3]. Dalam perkembangannya komoditas ini mengalami perubahan penyajian seperti pisang goreng ketika bersentuhan dengan teknologi yang menciptakan tepung terigu. Di kota-kota besar pisang goreng diperkaya rasanya dengan mentega yang merupakan komoditas buatan Eropa. Pendeknya, setiap rasa yang berbeda yang dibuat dari komposisi bahan-bahan yang berbeda memiliki sejarahnya.

Pisang goreng adalah makanan favorit di warung kopi klotok

Begitu juga dengan makanan seperti sayuran (sayur asem, sayur lodeh) yang mungkin bagi orang-orang Eropa tidak dikenal. Di Indonesia, seperti kita makan sehari-hari, tidak boleh absen. Selain lauk pauk harus juga ada sayuran yang hampir digemari oleh seluruh masyarakat Indonesia. Warung-warung di Indonesia pada umumnya menyajikan sayur. Nah warung kopi klotok menyajikan satu menu seperti sayur lodeh (yang tak pernah absen) kepada pengunjung. Selain bagi konsumen hal itu mengingatkan masakan di desa-desa mereka juga sebenarnya dari sudut pandang sejarah makanan sangat panjang. Sayur-sayuran yang ada adalah hasil bumi yang ditanam di Indonesia dan diolah dengan santan yang berbahan baku kelapa, juga ditanam di Indonesia. Cara pengolahan sayuran, menetapkan standar rasa, dan pemotongan-pemotongan sayur itu sendiri membuktikan tradisi suatu masyarakat yang khas. Barang kali di negara lain terong bisa disajikan dengan bentuk lain dan standar rasa yang tak sama.

Cara memasak di tungku juga menjadi ciri khas tradisi memasak tanah air yang mulai langka sejak masuknya produk-produk teknologi (seperti kompor gas) yang mengubah cara masak masyarakat kita. Menurut para chef, memasak di tungku memang jauh berbeda dari segi cita rasa. Meskipun lama, menurut mereka, cara memasak tradisional jauh lebih meresapkan bumbu dan lebih sehat.

Sisi-sisi inilah yang jarang sekali orang bahas dari tradisi kuliner ketika berkunjung ke suatu tempat, dalam hal ini adalah warung kopi klotok. Bahwa ornamen yang ada seperti rumah kayu klasik, harga yang murah atau keasrian adalah hal yang penting. Tetapi perubahan demi perubahan di balik masakan atau ritual memasak itu adalah hal sangat penting karena berkaitan dengan identitas kita sebagai masyarakat Indonesia.

 

Penutup

Warung klotok adalah salah satu warung yang unik dan menarik. Ia tidak saja mampu menghadirkan nuansanya yang klasik tetapi juga mampu menyajikan makanan khas desa yang lezat dan murah. Dari sisi gastronomi makanan yang disajikan warung klotok ini ternyata memang benar-benar menunjukkan identitas keindonesiaan yang kuat. Sayur, lauk dan makanan ringan, serta minuman menghadirkan warna Indonesia yang kuat.

Daftar Pustaka


[1] George Ritzer, Explorations in the Sociology Consumption: Fast Food, Credit Cards, and Casinos (New York: Sage Publications, 2001) 225-226

[2] Lihat lebih jauh reportase https://www.thejakartapost.com/life/2017/02/20/tracing-history-of-indonesian-culinary-fare.html

[3] Lihat lebih jauh http://www.foodbycountry.com/Germany-to-Japan/Indonesia.html