Kamar Kos Las Vegas di Yogya

Kamar Kos Las Vegas di Yogya

jkjkjkjk.png

Jayadi Kasto Kastari

Wartawan SKH Kedaulatan Rakyat

BERITA ‘Kamar Kos Las Vegas di Jogja Banyak Diburu. Ternyata ini alasannya’ yang saya tulis di KRJogja.com sampai Rabu (24/7/2019) pagi telah dibaca 40.955 orang. Belum tulisan di SKH Kedaulatan Rakyat, Selasa (23/7) berjudul “Masih Ada Kamar Las Vegas?” tentu dibaca ribuan orang. Tulisan itu berawal dari ‘Gathering Komunitas Owner Kos Jogja’ di sebuh Kafe di Bintaran Yogyakarta (20/7), Komunitas Owner Kos Jogja selama ini yang mengelola ‘Info Kos Jogja’ di Facebook yang anggotanya 61.000 orang lebih.

Salah satu kegelisahan dari Komunitas Owner Jogja setiap saat banyak pencari kos maupun kontrakan dengan pertanyaan, “Masih ada kamar LV atau Las Vegas?”. Pertanyaan selalu berulang sampai hari ini.

Tentu saja pertanyaan ini terus terang membuat risih, gemas, jengkel, marah dan entah perasaan apa lagi. Begitu juga saat berita diunggah, terjadi respons balik sangat luar biasa. Banyak yang kaget, Kenapa Yogya bisa seperti itu? Di mana peran pemerintah dan masyarakat? Komentar balik juga muncul, Yogya ternyata telah berubah. Berubah dengan hilangnya tata krama, sopan santun, etika budaya, kepedulian sosial dan kepekaan sosial, dan seterusnya.

Aturan Bebas
Dari pelacakan Zoel, admin Info Kos Jogja, Solo dan Surabaya yang dipaparkan di ‘Gathering Komunitas Owner Kos Jogja’, istilah LV alias Las Vegas itu muncul tahun 2013 dan digunakan secara masif dalam pencarian Info Kos Jogja di grup Facebook. Setelah ditelusuri yang dimaksud Las Vegas adalah kos dengan aturan bebas 24 jam. Artinya, bebas bawa pasangan, bebas dari segala aturan sosial, budaya, agama, bahkan apapun. Unsur kebebasan dari penyewa di kamar dijunjung tinggi.

Dari realitas itu, kemudian laman Info Kos Jogja dibuat daftar istilah yang kemudian dipahami dan dijadikan rujukan, acuan bagi anggota grup, di antaranya membedakan istilah pencarian Kos LV dan Kos Bebas. Sederhananya, Kos LV adalah kos yang ‘mengakomodasi’ penyakit masyarakat. Sementara Kos Bebas yang dimaksud adalah terkait dengan jam malam, membawa kunci kamar, kunci gerbang sendiri. Tarif sewa yang tinggi tidak menjadi masalah, tetap akan dibayar. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan anak kos bebas, kos dengan tipe LV harganya lebih mahal dibanding kos biasa.

Kos biasa ukuran 2,5 × 3 meter, 3 × 3 meter, 3 × 5 meter, kamar mandi luar/bersama, kamar mandi dalam kisaran harga Rp 300.000, Rp 400.000, Rp 500.000, Rp 650.000, Rp 750.00. Kos LV bisa 3-5 kali lipat harga sewanya per bulan. Jangan heran Kos LV dengan atas nama kebebasan, di sekitarnya seringkali ditemukan kondom dibuang di tempat sampah dengan sembarangan. Pergaulan di Kos LV memang sudah tidak ada lagi aturan. Siapa penghuni Kos LV? Mereka yang menganut kebebasan yang sebebas-bebasnya.

Baca juga: Kopi Klotok dalam Tinjauan Gastronomi

Degradasi Moral?
Apakah itu pertanda adanya degradasi moral? Orang yang pernah kuliah atau tinggal di Yogya banyak berkomentar. Yogya telah berubah, Yogya mengalami degradasi moral, pergeseran, Yogya sudah owah.

Padahal Yogya sekitar 20 tahun lalu, Yogya itu santun, adem ayem, sederhana, penuh keramahtamahan. Belakangan ini masyarakat Yogyakarta berubah dari komunal menjadi sangat personal dan individualistik.

Orang tua yang menyekolahkan anaknya di Yogya, baik di sekolah menengah maupun kuliah banyak yang cemas akan kondisi ini. Betapa sering, sebagai pemilik kos-kosan maupun kontrakan didatangi langsung orangtua mahasiswa. “Kami titik anak saya di sini. Tolong mohon ikut diawasi. Kami miris dengan pergaulan di Yogya. Yogya sebagai kota pendidikan sepertinya mulai kurang kondusif pergaulannya. Apalagi muncul kos-kosan bebas. Atau apa itu …istilahnya Kos Las Vegas…?”. Ujar orang tua mahasiswa kepada penulis.

Masih untung, orang tua mau mengantar dan tahu persis kos anaknya. Betapa banyak orang tua yang melepas sendiri anaknya, entah laki-laki atau perempuan yang mencari kos sendiri. Tentu di Yogya, masih banyak sekali kos-kosan yang baik dan lurus-lurus saja. Pemilik kos mencari rezeki yang berkah dan tidak memberi toleransi munculnya Kos LV. Justru yang sering mengagetkan, adanya kos-kosan yang baik dan lurus dicibir pencari Kos LV. Dicap pemilik kos kuno, kurang gaul, kurang modern, sok suci. Bahkan ‘disumpahi’ kos kuno tidak bakalan laku, tunggu saja waktunya: kos kuno akan bangkrut.

Itu realitas yang menyedihkan. Sampai di sini pemilik kos menjadi masygul: apakah ini Kota Yogyakarta yang Istimewa itu?

*) Jayadi Kasto Kastari. Wartawan SKH Kedaulatan Rakyat, Komunitas Owner Kos Yogyakarta

**) Artikel diambil dari Koran Harian Kedaulatan Rakyata


Facebook


Twitter


Google-plus


Whatsapp

Artikel Terkait

Pantai Indrayanti Favorit Pelajar
Pantai Indrayanti Favorit Pelajar
Pantai Drinil
Pantai Drinil

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*